Mindshift Weekly Insight

An insight into everything that's happening and how it relates to your business — helping you stay informed, adaptive, and ahead of the curve.

Mengapa Human-Centric Skills Menjadi Agenda Strategis 2026?

January 21, 2026

Manusia Sebagai Kunci dalam Ekonomi Baru

Dalam konteks ini, World Economic Forum menegaskan bahwa nilai kompetitif utama organisasi kini tetap pada keunggulan manusia. Laporan WEF “New Economy Skills: Unlocking the Human Advantage” (2025) menyoroti bahwa di era AI dan automasi, aset terpenting bukanlah mesin atau modal semata, tapi kemampuan manusiawi, yaitu kreativitas, empati, kolaborasi, dan kecerdasan emosional, yang memungkinkan kita beradaptasi dan berinovasi. Sekarang, “competitive edge is being human” (keunggulan kompetitif nyata adalah menjadi manusia). Kemampuan human-centric ini, seperti berpikir kreatif, pemecahan masalah kritis, serta ketangguhan mental adalah “mata uang keras” di pasar tenaga kerja masa kini. Meski sering disebut “soft skills”, kemampuan-kemampuan ini justru makin krusial untuk mendorong inovasi dan produktivitas jangka panjang dalam organisasi.

Namun tantangannya, skill manusiawi ini selama ini jarang diukur atau dipromosikan dalam dunia kerja.

  • WEF mencatat hanya sekitar 72% lowongan pekerjaan secara eksplisit menyebut setidaknya satu human-centric skill.
  • Angka itu turun menjadi 44% pada tahun 2025 di beberapa sektor penting.

Padahal, dalam pemulihan pascapandemi kemampuan seperti empati dan active listening turun drastis sebagai korban minimnya interaksi tatap muka. Dengan kata lain, seringkali kemampuan ini diperlakukan seolah otomatis ada (common sense) sehingga tak disertakan dalam job description atau pelatihan. Ini cukup riskan, mengingat human-centric skills ini rentan rusak saat krisis melanda, dan memerlukan latihan berbulan-bulan untuk tetap terasah.