Setelah mengangkat Laxman Narasimhan (mantan konsultan McKinsey) sebagai CEO pada Maret 2023, Starbucks malah mengalami penurunan kinerja yang tajam. Penjualan di AS dan Cina merosot beruntun, sementara isu boikot juga menekan lalu lintas toko. Imbasnya, harga saham Starbucks turun drastis sekitar 20–22% selama 17 bulan kepemimpinan Narasimhan, menghapus puluhan miliar dolar nilai pasar. Misalnya, pada April 2024 Starbucks mengejutkan pasar dengan menurunkan panduan penjualan dan melaporkan penurunan di gerai-gerai yang sudah beroperasi, sehingga sahamnya terjun bebas ~16% dalam sehari (setara $16 miliar).


