Di tengah ledakan talenta AI yang semakin terspesialisasi, banyak organisasi justru terjebak dalam paradoks baru: teknologi berkembang lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk memberi arah. Ketika mesin mampu mengeksekusi tugas dengan presisi, tantangan terkini adalah tentang mengapa (why), bukan sekadar tools apa (what) dan bagaimana cara utilisasinya (how).
Gelembung Spesialisasi yang Mulai Retak
Memasuki bulan kedua di tahun 2026, wajah dunia kerja global telah berubah total dibandingkan dua tahun lalu. Jika pada tahun 2024-2025 perusahaan-perusahaan di seluruh dunia termasuk di Indonesia berlomba-lomba melakukan hiring untuk posisi Prompt Engineer, Data Scientist, dan AI Architect, kini sebuah anomali besar mulai muncul ke permukaan.
Laporan dari Forbes bertajuk “Why 95% of AI Pilots Fail” menjadi topik utama di meja-meja direksi global belakangan ini. Data tersebut mengungkapkan sebuah ironi investasi: 95% dari inisiatif AI hanya berakhir di fase pilot dan gagal memberikan dampak bisnis yang nyata.


